Blognya Aan Zaenu Romli yang berisikan tentang informasi serta pengetahuan baru

Terbaliknya Media Online

Media Online kini terbalik menurut saya. Sebelum sekarang Media Online itu adalah bangunan utama sebuah Media yang akan dibangun. Disini saya membicarakan portal berita atau Media Online pemberitaan. Karena memang obyek yang saya maksud adalah media tersebut. Kendati ada media online berkategori lain yang mempunyai pergeseran serupa.

Sebelum sekarang ini, Media Online dibangun terlebih dahulu. Dari prosesnya yang panjang, tentunya membutuhkan usaha serta modal agar media tersebut dapat diterima di hati masyarakat. Dengan demikian media tersebut mempunyai banyak pengunjung yang secara tidak langsung mampu menghasilkan profit bagi pemilik media tersebut.

Beberapa dari prosesnya adalah tentunya memperbanyak konten media tersebut. Konsisten dalam memperbanyak konten juga masuk ke dalam salah satu usahanya. Usaha lain yang ditempuh adalah publikasi. Mulai dari memasang iklan di media lain, jalan, sampai tempat umum. Bukan hanya itu, seiring munculnya Media Sosial yang memiliki puluhan juta umat, tentunya hal ini juga menjadi sasaran empuk untuk mempublikasikan konten mereka. Inilah yang saya maksud, Media Sosial.

Dalam hal ini saya akan berfokus terhadap Media Online dengan Sosial Media. Sebelum sekarang, Media Online dibentuk terlebih dahulu. Baru setelah itu media tersebut membikin Media Sosial untuk publikasi kontennya. Diharapkan dengan publikasi konten ke Media Sosial tersebut, pengunjug Media Onlinenya meningkat.

Jadi intinya yang saya maksud adalah Media Sosial hanyalah sebuah pendukung dari Media Online. Berbeda halnya dengan sekarang. Hal tersebut justru terbalik.

Kini membangun sebuah media sepertinya mudah dan gratis. Si pembangun hanya butuh sebuah akun Media Sosial dan jutaan pengunjung saja, media sudah terbentuk. Itu menurut versi pemiliknya (mungkin). Terlebih mendapat banyak tanggapan dari teman atau pengikutnya. Tentunya hal ini adalah tanda-tanda yang baik.

Dengan bermodal beberapa hal diatas, baru kemudian pembangun media tersebut membikin Media Online yang menjadi Home Page akun Sosial Media tersebut. Hanya saja karena memang mainnya di Sosial Media, maka Home Page mereka terbengkalai. Kesannya Home Page hanya menjadi formalitas atau prestisius saja.

Dari kedua pembahasan diatas, jelas berbeda. Pembahasan pertama tentang sebuah Media Online yang memang benar-benar bermodal serta ada niat. Serta pembahasan kedua tentang Media Online yang dibangun dengan modal dengkul.

Sumber dayanya pun juga jelas berbeda. Sebagai salah satu contoh adalah hal yang beberapa hari kemarin saya alami. Saya yang menjadi pewarta dari portal berita Berita Jogja mendapat tugas untuk menghadiri Meet and Greet JKT48 di Sahid Rich Hotel.Setibanya disana, betapa kagetnya saya ketika tengah mengisi presensi kehadiran media. Betapa tidak, dari sekian banyak media yang terdaftar untuk memberitakan,  80% tercatat adalah akun Twitter.

Hasilnya pun kelihatan, ketika proses tanya jawab dengan member JKT48, admin Twitter bertanya, "Nabilah berapa kali ke Jogja?", "Kinal besuk mau kemana ni?", "Nabilah follback dong!" (yang terakhir adalah rekayasa saya).

Dalam benak saya, Admin Twitter kok disuruh wawancara? Hadeh mass masss....


Tag : Kritik
0 Komentar untuk "Terbaliknya Media Online"

Back To Top